Koronavirus: Penemuan, Perkembangan, Pandemi di Indonesia, dan Dampaknya

April 4, 2020 - 8 minutes
koronavirus pandemi covid-19 coronavirus corona

Ilustrasi koronavirus Ilustrasi Koronavirus

Abstrak

Koronavirus adalah kelompok virus dengan bentuk menyerupai mahkota yang menyebabkan penyakit pada unggas dan mamalia, termasuk manusia. Namanya diambil dari bahasa latin corona yang berarti mahkota. Virus ini pertama kali diisolasi oleh para ilmuwan dalam embrio ayam pada tahun 1937. Virus ini menyebabkan beberapa penyakit. Virus ini menyebabkan infeksi saluran pernapasan pada manusia yang tidak terlalu parah seperti pilek, dan beberapa dapat mematikan, seperti SARS, MERS, dan COVID-19. Belum ada vaksin atau obat yang dapat mencegah atau menyembuhkan penyakit yang disebabkan oleh koronavirus pada manusia. COVID-19 menyebabkan pandemi pada tahun 2020 dan memiliki dampak yang luar biasa.

Penemuan Koronavirus

Virus ini pertama kali diisolasi oleh para ilmuwan dalam embrio ayam pada tahun 1937. Pada tahun 1951, Gledhill dan Andrew mengetahui bahwa koronavirus dapat menyerang tikus dan menyebabkan hepatitis. Kemudian pada tahun 1965, dua ilmuwan bernama Tyrrel dan Bynoe ketika mereka menemukan bukti koronavirus yang bernama B814 pada manusia yang mengalami gejala flu biasa.

Pada akhir 1960-an, Tyrrell memimpin penelitian terhadap turunan (strain) koronavirus pada manusia dan hewan. Di antaranya termasuk virus infeksi bronkitis yang ditemukan pada 1937, virus hepatitis tikus pada 1951, dan virus gastroenteritis babi yang dapat ditularkan pada 1946. Virus-virus tersebut secara morfologis tampak sama melalui mikroskop elektron. Kelompok virus baru yang bernama koronavirus itu kemudian secara resmi diterima sebagai genus virus baru.

Kejadian Luar Biasa

Koronavirus memiliki dampak yang sangat besar pada pertanian daripada manusia pada awalnya, karena sering menginfeksi hewan-hewan ternak yang menyebabkan kerugian bagi petani. Namun, ketika muncul sindrom pernapasan akut-berat (Inggris: Severe Acute Repiratory Syndrome, SARS) yang disebabkan oleh virus pada tahun 2003, koronavirus telah menyebabkan perkembangan teknologi yang dibutuhkan untuk memahami virus dan mengembangkan tes atau perawatan diagnostik.

Kejadian luar biasa yang pertama kali disebabkan oleh koronavirus di manusia adalah SARS pada tahun 2003 Virus yang menyebabkan kejadian ini diberi nama SARS-CoV. SARS pertama kali dilaporkan sebagai epidemi pnumonia tidak biasa oleh Pemerintah Tiongkok pada bulan November tahun 2002 di Guandong, Tiongkok. Kejadian tampak muncul pertama kali pada 27 November 2002 saat Jaringan Intelijen Kesehatan Publik Global milik Kanada menemukan laporan penyebaran flu di Tiongkok melalui pengawasan dan analisis internet, kemudian mengirimkannya ke WHO. Pada 26 Februari 2003, seorang pria teridentifikasi sebagai kasus pertama di Hanoi, Vietnam. Pada SARS menginfeksi 8.422 orang.

SARS berkembang dengan lambat dan tergolong penyakit langka. Hingga 31 Juli 2003, terdapat 8.096 kasus dikonfirmasi. Sebanyak 774 dari 8.096 kasus positif meninggal, dengan tingkat mortalitas sebesar 9.6%. Pada 18 Mei 2004, WHO menyatakan Tiongkok terbebas dari SARS tetapi tetap memperhatikan kemananan biologis.

Kasus kejadian luar biasa berikutnya yang disebabkan oleh koronavirus adalah sindrom pernapasan Timur Tengah (Inggris: Middle-East Respisratory Syndrome, MERS) pada tahun 2012 di Arab Saudi. Virus yang menyebabkan penyakit ini diberi nama MERS-CoV. Gejala yang dialami oleh manusia yang terinfeksi hampir sama seperti SARS, yakni demam, batuk, napas pendek, nyeri otot, dan gangguan pencernaan. Meskipun sudah terjadi delapan tahun silam, kejadian ini masih berlangsung hingga sekarang. Hingga Januari 2020, penyakit ini menginfeksi 2.506, 862 diantaranya meninggal. Dengan tingkat mortalitas sebesar 34%, penyakit ini merupakan penyakit yang disebabkan oleh koronavirus dengan tingkat mortalitas tertinggi.

Sebuah studi yang dipublikasikan pada Desember 2013 di jurnal Eurosurveillance menemukan konsentrasi antibodi MERS-CoV tinggi pada darah unta dromedari. Studi lanjutan yang dipublikasikan pada April 2014 di jurnal mBrio menunjukkan bahwa terdapat kesamaan urutan gen virus pada manusia dan unta dromedari. Seorang pria arab juga dikabarkan jatuh sakit tujuh hari setelah memberikan obat oles pada hidung unta yang sakit, kemudian ditemukan virus yang sama pada pria dan salah satu untanya tersebut.

Kejadian luar biasa berikutnya adalah pandemi koronavirus pada tahun 2020 di seluruh dunia. Pandemi ini memiliki dampak yang sangat dirasakan oleh seluruh penduduk dunia. Pandemi ini diberi nama COVID-19, kependekan dari coronavirus disease 2019, yang artinya penyakit koronavirus 2019. Penyakit ini disebabkan oleh SARS-CoV-2 yang sebelumnya dikenal dengan nama 2019-nCov (novel coronavirus 2019). Penyakit ini pertama kali diidentifikasipada Desember 2019 di Wuhan, Hubei, Tiongkok, Penyakit ini diduga ditularkan oleh kelelawar ke trenggeling sebelum akhirnya menginfeksi manusia dan menyebar melalui kontak manusia dengan manusia. WHO mengumumkan penyakit COVID-19 sebagai pandemi pada 12 Maret 2020. Pandemi ini masih berlangsung pada saat artikel ini ditulis.

Per 29 Maret 2020, ada 693.282 orang terinfeksi dan sebanyak 33.106 orang meninggal. Penyakit ini mudah menular, terbukti dengan adanya 693.282 kasus positif di seluruh dunia (versi WHO), serta penyakit yang disebabkan oleh koronavirus dengan tingkat penyebaran paling tinggi. Tingkat mortalitas sebesar 4.8% menjadikannya penyakit yang disebabkan oleh koronavirus pada manusia dengan tingkat mortalitas terendah. Di Indonesia, sebanyak 1.414 terkena COVID-19 dan 122 orang meninggal, dengan tingkat mortalitas sebesar 8,6%, satu diantara yang tertinggi sedunia.

Penyebaran COVID-19 ke Indonesia

Pada 2 Maret 2020, Presiden Joko Widodo mengonfirmasi dua kasus pertama COVID-19 dalam sebuah pernyataan yang ditayangkan di televisi. Menurut Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, pasien terpapar virus dari seorang Jepang yang terinfeksi di Depok, yang kemudian dinyatakan positif saat melakukan tes di Malaysia.

Pasien 1 merupakan WNI berusia 31 tahun yang tertular virus setelah kontak langsung dengan warga negara Jepang dalam acara di klub dansa Paloma & Amigos di Jakarta. Pasien 2 yang berusia 61 tahun adalah ibu dari pasien 1. Ibu dan anak ini tinggal di kawasan Depok.

Pada 14 Februari 2020, pasien 1 bertemu dengan teman-temannya di sebuah pesta dansa yang terdiri dari 50 orang mancanegara. Dia melakukan kontak dengan salah satu warga negara Jepang yang tinggal di Malaysia. Kemudian, pada 16 Februari, pasien 1 mengeluhkan batuk, sedikit demam, dan lemas. Sejak itu, dia berobat rawat jalan dan ditemani pasien 2. Namun, pada 20 Februari 2020, pasien 2 juga mengalami sakit. Mereka kemudian memutuskan untuk dirawat di rumah sakit pada 26 Februari 2020.

Setelah itu, pada 28 Februari 2020, teman dansa pasien 1 mengabarkan bahwa dirinya telah positif COVID-19. Pasien kasus 1 memberi kabar kepada dokter yang merawatnya tentang hal ini. Dokter kemudian memindahkan pasien 1 dan 2 ke RSPI Sulianti Saroso. Setelah hasil tes laboratorium keluar, pasien 1 dan 2 diumumkan positif COVID-19 pada 2 Maret.

Dampak COVID-19 Dalam Berbagai Bidang di Indonesia

Sosial

Kehadiran COVID-19 di Wuhan pada Desember tahun lalu memicu kepanikan di masyarakat Indonesia. Pada pertengahan Februari 2020, sebuah penelusuran yang dilakukan oleh South China Morning Post terhadap toko kelontong dan mal di Jakarta menemukan bahwa seluruh masker wajah, tisu antiseptik, dan pembersih rumah tangga habis. Sementara itu, para pedagang yang oportunis menggunakan pandemi ini untuk menimbun masker dan menaikkan harga jual. Harga masker yang normalnya berkisar antara Rp 30.000 per boks, sekarang meroket hingga Rp 350.000,00. Polisi telah menindak para tersangka penimbun.

Selain itu, kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah menurun. Pemerintah dinilai sangat lambat untuk mempersiapkan diri menghadapi pandemi ini. Bahkan cenderung menyepelekan pada awalnya. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi sempat bergurau tentang orang Indonesia kebal COVID-19 karena makan nasi kucing, tetapi malah positif COVID-19 di bulan berikutnya. Kasus pertama di Tiongkok teridentifikasi pada Januari lalu, sedangkan di Indonesia pada 2 Maret. Jarak waktunya sudah cukup panjang untuk merpersiapkan diri menghadapi pandemi.

Pemerintah pada akhirnya mengajurkan masyarakat untuk tidak keluar rumah dan berdekatan secar fisik selama pandemi berlangsung. Anjuran ini sesuai dengan anjuran yang diberikan oleh WHO untuk memperlambat penyebaran COVID-19. Akibatnya, sekolah-sekolah diliburkan aktivitas belajar-mengajarnya di sekolah dan digantikan dari rumah mulai tanggal 16 Maret 2020 hingga waktu yang tidak terkira. Banyak juga perusahaan yang menyuruh karyawannya bekerja dari rumah untuk meminimalisir penyebaran penyakit. Hal ini menyebabkan masyarakat terpisah secara fisik, tetapi terima kasih atas bantuan teknologi, mereka tetap terhubung satu sama lain.

Kemudian, muncul solidaritas masyarakat untuk menggalang dana ataupun peralatan perlindungan diri seperti masker, hand sanitiser, dan hazmat (baju penutup kepala hingga kaki yang dipakai oleh petugas medis) untuk disumbangkan kepada tim medis yang secara langsung menangani pasien COVID-19.

Ekonomi

Pandemi koronavirus 2020 melesukan ekonomi secara global. Harga-harga saham di seluruh dunia mengalami tren penurunan, termasuk yang berada di Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah bahkan sebelum konfirmasi kasus pertama di Indonesia. Sebagai respons, Bank Indonesia memangkas suku bunganya sebesar 25 basis poin menjadi 4,75% pada 20 Februari. Pada saat WHO mengumumkan pandemi, IHSG jatuh 4,2 persen menjadi 4.937 ketika sesi Kamis dibuka, level yang tidak pernah terjadi selama hampir empat tahun terakhir. Pada 13 Maret, perdagangan saham dihentikan untuk pertama kalinya sejak 2008 karena pandemi.

Pandemi ini juga menurunkan pendapatan masyarakat. Dalam hal ini, Pemerintah telah membuat kajian dampak ekonomi dan penurunan penghasilan masyarakat di setiap provinsi berdasarkan skenario ringan, sedang, hingga buruk. Dalam skenario sedang, pendapatan buruh di NTB diperkirakan menurun sekitar 25%. Selama orang-orang tidak melakukan aktivitas keluar rumah dan mobilitas masyarakat menurun, pendapatan supir angkutan umum dan ojek mengalami penurunan, hingga 44% di Sumatera Utara.

Selain itu, terdapat kenaikan signifikan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah. Pada 4 Maret 2020, sehari setelah pengumuman pukul 3 WIB, nilai tukar USD terhadap IDR masih Rp 14111. Namun pada 20 Maret sudah menyentuh Rp 16.010. Diperkirakan juga akan ada banyak usaha yang gulung tikar akibat tidak ada pemasukan selama pandemi ini berlangsung.

Pendidikan

Dalam bidang pendidikan, pandemi koronavirus 2020 menyebabkan beberapa hal yang dapat mengubah cara mendidik di Indonesia. Pertama-tama, sekolah-sekolah di daerah yang menyatakan keadaan darurat diliburkan dan cara ajarnya berganti menggunakan internet. Kedua, Ujian Nasional (UN) yang sudah sejak dari dulu ada ditiadakan untuk mencegah penyebaran wabah. Rencana untuk menghapus UN dan menggantinya dengan Asesmen pada tahun ajaran 20202021 sudah ada sejak Nadiem Makarim menjabat sebagai Menteri Pendidikan, tetapi maju satu semester akibat wabah COVID-19. Ketiga, kampus-kampus di berbagai daerah di Indonesia melakukan kegiatan belajar-mengajar, bimbingan skripsi, hingga sidang skripsi secara daring melalui panggilan video. Sebuah hal yang tak lazim untuk melakukan sidang skripsi melalui video, tetapi harus dilakukan untuk terhindar dari penyakit dan tetap mendapatkan gelar akademis.

Hal pertama dan ketiga bisa saja merubah sistem pendidikan di Indonesia, yakni dengan mengganti cara mengajar konvensional -di mana peserta didik berkumpul dalam suatu ruangan kemudian diajar oleh seorang guru- dengan mengajar melalui panggilan video atau bahkan sebuah forum daring yang dilakukan dari rumah masing-masing. Akan tetapi, meskipun kegiatan belajar-mengajar dilakukan dari rumah, tetap ada beberapa guru yang memberikan tugas tanpa memberikan penjelasan terkait materi terkait pada tugas tersebut. Hal ini menyebabkan peserta didik tidak paham materi yang dijadikan tugas, sehingga materi tersebut mudah dilupakan oleh peserta didik. Sedangkan hal kedua dalam konteks pencegahan penyebaran COVID-19, hanya berlaku bagi siswa kelas 6, 9, dan 12 tahun ajaran 20192020.